Ngawi – Di tengah derasnya arus digitalisasi yang semakin memengaruhi pola hidup dan kebiasaan generasi muda, dunia pendidikan dituntut untuk tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada penguatan karakter religius peserta didik. Menjawab tantangan tersebut, SMP Negeri 4 Widodaren menghadirkan inovasi SAMI SAJ GUS (Satu Minggu Satu Juz Guru dan Siswa) sebagai gerakan pembiasaan membaca dan menghafal Al-Qur’an secara terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.

Lalu, mengapa inovasi ini dipilih dan dianggap penting untuk diterapkan? Karena sekolah memandang bahwa pembiasaan membaca Al-Qur’an tidak boleh hanya bersifat insidental, melainkan harus menjadi budaya yang hidup setiap minggu dan melibatkan seluruh unsur warga sekolah. Kondisi rendahnya kebiasaan membaca Al-Qur’an secara rutin serta masih terbatasnya kemampuan tajwid siswa menjadi alasan kuat lahirnya program ini sebagai solusi pembinaan karakter religius yang lebih sistematis.
Program SAMI SAJ GUS dirancang dengan pendekatan yang sederhana namun berdampak besar, yaitu target membaca satu juz dalam satu minggu yang dilakukan setiap hari Jumat setelah salat Dhuha selama 30 menit di musholla sekolah. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan siswa, tetapi juga guru dan karyawan sebagai teladan nyata. Dengan demikian, tercipta suasana kebersamaan yang memperkuat nilai spiritual sekaligus mempererat hubungan antarwarga sekolah dalam bingkai ibadah bersama.
Selain membaca, program ini juga memberikan ruang bagi siswa untuk menghafal surat-surat pendek Juz 30 sebagai alternatif kegiatan yang memperkaya kemampuan literasi Qur’ani. Menariknya, setiap capaian bacaan dan hafalan tidak hanya dilakukan secara manual, tetapi juga dilaporkan melalui WhatsApp Group sebagai bentuk pemanfaatan teknologi dalam pembinaan karakter. Sistem ini membuat proses pemantauan menjadi lebih transparan, terukur, dan mudah dievaluasi secara berkala.
Jika sebelumnya kegiatan membaca Al-Qur’an di sekolah hanya dilakukan pada momen tertentu atau sebatas pelajaran Pendidikan Agama Islam, kini melalui inovasi ini kegiatan tersebut berubah menjadi rutinitas yang terjadwal, terarah, dan menjadi bagian dari budaya sekolah. Perubahan ini menunjukkan adanya transformasi besar dalam pola pembinaan keagamaan yang lebih aktif dan partisipatif.
Lalu, apa yang membuat SAMI SAJ GUS ini layak dipilih sebagai inovasi unggulan? Jawabannya terletak pada konsepnya yang menggabungkan pembiasaan ibadah, keterlibatan seluruh warga sekolah, target capaian yang jelas, serta pemanfaatan teknologi sederhana sebagai media monitoring. Kombinasi inilah yang menjadikan program ini tidak hanya relevan, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan pendidikan di era modern.
Seiring berjalannya waktu, dampak positif mulai terlihat di lingkungan sekolah. Siswa menjadi lebih terbiasa membaca Al-Qur’an, meningkat dalam kemampuan tajwid, serta menunjukkan sikap yang lebih disiplin dan religius. Guru dan karyawan pun semakin aktif memberikan keteladanan, sementara sekolah berhasil membangun citra sebagai lembaga pendidikan yang konsisten dalam menanamkan nilai-nilai Qur’ani.
Dengan demikian, SAMI SAJ GUS tidak hanya menjadi sebuah program pembiasaan, tetapi juga menjadi gerakan kolektif yang menghidupkan nilai spiritual di lingkungan sekolah. Inovasi ini diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam iman, akhlak, dan karakter Islami yang berkelanjutan.